5.19.2009

“Perang”

Bagi anda tepatnya yang baru menetap di kota Batam, mungkin belum atau bahkan tidak pernah mendengarkan, bawasannya tepat pada pertengahan tahun 1999 silam pernah terjadi suatu kejadian yang amat sangat menggemparkan sekali di kota Batam ini. dan pada saat itu mungkin anak seusia saya khususnya, masih berada dibangku kelas 2 sekolah dasar. Nah! Yang menjadi permasalahnnya sekarang adalah kejadian apa yang terjadi pada tahun tersebut, hingga sampai-sampai bisa dikatakan sebagai sebuah kejadian yang amat menggemparkan?. Saya sendiri khusunya tidak terlalu paham dengan kejadian tersebut mengingat saya pada saat itu masih berada di bangku kelas 2 SD, namun setelah saya mulai beranjak dewasa hingga saat ini, saya baru mengetahui, bahwa pada saat itu pernah terjadi sebuah perang suku.

Perang suku? Ya perang suku, diketahui perang atau perkelahian suku ini terjadi dikalangan suku Batak dan plores, inti permasalah yang memicu perkelahian masal suku-suku tersebut dikatakan karena urusan yang amat sangat sepele, yaitu masalah perempuan yang lebih spesifik lagi adalah masalah perebutan perempuan. Sebelumnya didapati hanya da konflik kecil saja antara kedua belah pihak yang saling bertentang ini, namun kelama-lamaan konflik ini dikatakan terus menerus meluas hingga melibatkan seluruh komunitas suku Batak dan Flores yang ada di Batam saat itu, saat itu memang keberadaan suku Batak dan Flores di Btam memang mencapai jumlah yang cukup tinggi.

Saat saya sendiri cukup merasakannya walaupun saya dan suku saya tidak ikut terlibat didalamnya, namun gara-gara perkelahian ini kabarnya sungguh sangat menggangu kehidupan para warga etempat khusunya pada daerah, Bengkong, Jodoh-Nagoya, Batu Ampar, hingga Bukit senyum, menurut keterangan orangtua saya, mereka pada saat itu membeli persediaan kebutuhan rumah tangga untuk waktu satu minggu, karena memang keadaan sangat tidak memungkinkan untuk para warga lain untuk keluar bebas karena memang sedang marak-maraknya kerusuhan pada saat itu.

Kejadiann ini diketahui berlangsung cukup lama sekitar 1 tahun lebih tepatnya dari pertengahan tahun 1999 hingga berakhir pada awal tahun 2001, sungguh sangat lama kan!. Namun setelah menginjak tahun 2001 kasus ini pun sudah usai dan sudah terselesaikan, tak ada lagi korban yang berjatuhan walaupun sangat sedikit sekali. Hingga sekarang di Batam belum lagi ditemui permasalahan-permaalahn serupa, karena memang kejadian terebut udah menjadi ebuah pelajaran yang sangat berharga bagi para warga, disamping itu Pemko juga telah mencanangkan pada setiap warga agar tidak melakukan hal-hal yang dapat menggangu orang banyak layaknya kasus tersebut.

Oleh karena adanya permasalahan tersebut pada maa lalu, membuat warga batam mempunyai kesadaran yang tinggi tentang apa yang akan trjadi apabila mereka melakukan hal serupa, sehingga Batam udah dengan sangat gambalangnya membuat sebuah moto bahwa “batam Bandar dunia yang madani” karena memang terlepa dari permasalahan tersebut warga batam tidak pernah lagi terlihat melakukan hal-hal yang berakibat kerusuhan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bijak dan lugas adalah kunci sebuah kritik dapat dinalar dengan otak dan dapat dicerna oleh mata !