4.18.2011
"SURAT!!"
4.14.2011
"PUJAANKU!!" -puisi ditengah malam-
4.13.2011
"kau itu tak penting!!"
“Kau dengarlah sekali lagi, kau menangispun aku takkan peduli. Apa untungku untuk semua raunganmu itu, sudah ku katakan kau takkan ada artinya lagi setelah semua yang ku beri kau campakkan, kau anggap aku masih aku yang kau tahu dulu, kau anggap aku masih binatang peliharaanmu yang bisa kau bodohi. Bodoh sekali!!, sudahlah, menangis darahpun takkan pernah ku tanggapi lagi, aku ingin buta disaat kau hadir didepan mataku, dan aku harap aku bisa tuli ketika kau hadir dengan tangisanmu yang semakin menjadi-jadi itu”.
“dengarlah, aku menyesal melakukan semua itu kepadamu, kau tahu, aku tak kan mungkin memilihmu, ketika semua itu sedang ku jalani”
“persetan dengan bualanmu itu, sekarang baru kau tahu rasanya sesal, dahulu kau yang buat aku menyesal karena telah biarkan kau berada dipelukan lelaki itu dan sekarangpun aku sangat kesal karena aku menyesal telah mengenalmu, aku tak peduli kau ingin berkata apa, walau kau jujur sekalipun, karena yang ku tahu kau pernah membohongiku dan itu cukup untuk membuatku yakin kalau kau tetap seorang penipu hingga kini, apa susahnya bagimu berkorban, seperti aku contohnya!! Heeeh...”
“kau boleh hujat aku sesuka hatimu, kau boleh mengatai aku dengan apapun kata hina itu, aku ikhlas, aku memang pantas kau beginikan, memang ini salah dan khilafku, aku mohon, aku masih ingin sekali lagi jadi milikmu”
“tak kau bilangpun aku akan selalu menghujat dan menghinamu, takkan pernah kurang kata-kata hina yang akan aku keluarkan untukmu, aku pernah berkata padamu bahwa aku akan bersikap lebih baik ketika kau baik kepadaku, dan bila kau menjahatiku sedikit saja, maka terimalah sesuatu yang lebih jahat dariku akan menimpamu. Aku tak peduli dosa yang akan ku terima, apa salahnya aku mempertahankan harga diriku yang dulu kau injak-injak itu, apa salahnya. Sekarang setelah dia mencampakkanmu baru kau tahu aku tulus waktu itu, barulah kau tahu hanya aku yang akan menjadi tempatmu kembali!! Sadis!!, kau anggap aku apa? Apa? Kau tahu, rasa cinta, rasa sayang yang dulu pernah untukmu sekarang sudah habis, kubakar bersama bayangan wajahmu, ku kubur abunya bersama bisik suaramu yang dulu masih terus menghantuiku, dan kini semua tentangmu tak ada lagi, bahkan setelah sekarang aku melihatmu kembali, kau tak ubahnya seperti orang yang tak pernah kukenali. maaf bila semua ini terlanjur terjadi, aku rasa ini perlu, kau perempuan bimbang yang hanya bisa memikirkan untung dan rugimu saja, pergi saja dengan lelakimu itu, dia bisa membawamu terbang keparis, ia bisa memberimu rumah-rumah berbaris, dan dia bisa mengukir namamu dengan tinta emas di sebilah keris, dia bisa memberikan apapun yang tak bisa ku berikan padamu, pergi saja dengan lelakimu yang dulu kau pertahankan itu, aku tak peduli lagi, takkan lagi ada tangisan untukmu”
“aku menyesal! Tolonglah mengerti aku!!”
“kapan aku tak mengeri kau? Kapan?”
“tolonglah!!”
“jangan paksa aku, pergilah sekarang, aku tak ingin melihat batang hidungmu lagi. Kau tau rasanya sakit?, bukan seperti luka sayatan pedang yang kau sirami dengan air cuka, bukan seperti itu, bahkan lebih dari itu, beribu-ribu, bahkan berjuta kali lipat lebih sakit dan pedih dari itu, dan itu aku rasakan dulu, ketika kau lebih memilih dia ketika aku mengemis padamu!, aku rasa kau berhak dan wajib merasakannya juga, jangan salahkan aku, ini salahmu”
“kau menolakku!! Lebih baik aku mati!!”
“ya!! Tentu saja, lebih baik kau mati, biar kau tak lagi menghantuiku. Ingat bila nanti kau mati dan kau menghantuiku, sungguh itu takkan berarti apa-apa!!”
“kau jahat!!”
“ya aku jahat!!”
“kau.. kau...!!”
“apa?, sudahlah, aku harus memberi makan dua ekor hamster peliharaanku, mengganti abuk kayunya, dan memberi mereka minum, mereka lebih penting dari pada KAU!!
3.14.2011
KIKAN-REZA (Guardian of Love)
Kikan : aku rasa kau bodoh!
Reza : kau yang bodoh!
Kikan : kau akhirnya memiliki seorang gadis tak berharga seperti ku ini
Reza : dan kau berhasil mendapatkan aku yang sebenarnya tak pantas untukmu
Kikan : kenapa kau berkata seperti itu, kau menyesal?
Reza : bukan aku, mungkin kau!
Kikan : Reza... apa bisa aku berkata menyesal, sementara jari tanganku sudah kau lingkari dengan cincin tembaga ini?
Reza : itu hanya cincin.
Kikan : bagimu, tapi tidak untuk aku
Reza : lantas?
Kikan : ini bukti bahwa kau miliki aku, kau mengikat aku dan aku tak mungkin berpaling dari mu
Reza : tapi aku takut
Kikan : takut? Karena apa? mata rabunmu, karena selalu kau pakai untuk melihat layar komputer, atau kesibukanmu mengurus proyek sosial, atau karena tulisan-tulisan indahmu yang selalu dipuji orang?, itu bukan alasan, aku menyukai semua itu darimu, kau berbeda, dan itu yang buat aku cinta.
Reza : tapi tetap saja aku takut! Bisa saja kau tak menginginkan semua itu dariku, bisa saja kau tak suka aku begitu dan mungkin saja kau membenci semua yang aku sukai itu?
Kikan : bodoh!!, kau memang bodoh, kalau memang aku tak suka semua hal tetang kau, sudah dari dulu kau ku tinggali. Bukankah sudah ku bilang bahwa semua yang kau miliki AKU CINTAI!!
Reza : kau tulus, apa pantas?
Kikan : kau baik dan jujur, dan apa pantas juga?
Reza : kau selalu menjebak aku, kau selalu memuji apa yang seharusnya tak kau puji.
Kikan : oh! Kau ingin aku hina, kau ingin aku caci maki?
Reza : bukan begitu, aku ingin kau periksa dulu hatimu, aku takut kau menyesal telah memilih aku.
Kikan : buat apa lagi aku periksa? Bukankah sudah kau ambil hatiku itu, bagaimana bisa aku memeriksanya lagi!
Reza : aku sangat sayang, sangat sangat sayang, semua itu untuk mu.
Kikan : dan aku tak hanya sekedar sayang, namun CINTA juga adalah milikmu.
Reza : kikan, bila suatu hari nanti kau sadar, kau boleh tinggalkan aku, lepaskan cincin itu, campakkan saja ke selokan, atau kuburkan dalam tumpukkan sampah. Aku ikhlas..
Kikan : aku tak akan menguburnya dalam tumpukkan sampah, karena cincin ini akan terkubur didalam tanah beserta aku. Aku tak mungkin tinggalkanmu, sampai matipun..
Reza : kau baik!!
Kikan : hanya baik?
Reza : manis!
Kikan : manis? Jadi aku tidak cantik?
Reza : tak perlu aku katakan lagi bila kau sudah tahu.
Kikan : kau selalu begitu, aku suka, diam dalam jujurmu itu.
Reza : dan aku suka caramu menggoda aku, oh ya kikan aku buat puisi ini untukmu.
Wahai dewi surgai
Kau berikan aku kuldi
Tak untuk buat aku hidup lama
Namun untuk cinta ku agar selamanya
Wahai dewi surgai
Kau titipkan aku sebuah kitab
Tak untuk jadikan aku ahli agama
Namun untuk menuntun ku agar setia
Dan kau dewi surgai
Kau berikan aku zam-zam
Bukan untuk bersihkan jiwa
Namun untuk cintaku agar murni tanpa noda
Kau terindah, begitu indah, dan sangat indah
Mataku terbelalak, hingga akhirnya aku terjebak
Ketika menatapmu hanya satu yang bisa kuucapkan
“KAUINDAH”
Kikan : aku juga punya, aku baru belajar, dan itu hanya karena kau
Kau malaikat, turun dari langit membawa surat
Tertulis kata setia juga ketulusan dalam selembar kertas coklat
aku indah katamu, hingga buat kau malu menatapku
dan aku sempurna katamu, hingga kau tak mau mengotori kulitku.
kau malaikat, kau turun dengan sayap putih tulang mu yang tegap
berkembang di langit menutupi silau mentari yang menghunus retina ku
juga panasnya yang menggosongkan kulitku.
Tapi kau yang seperti itu bukanlah malaikat
Sudi kah bila ku sebut kau bodyguard
atau satpam tak berpangkat?
Reza : ini indah, dan kau bebas menjadikan aku apapun bagimu, karena aku cinta, dan itu khusus untuk mu.
Kika : Reza kau tetap malaikat. Kau Guardian of love ku!!
3.11.2011
KIKAN-REZA (Milikmu Sepenuhnya)
Aku melamun, menatapi wajah manis didepan mataku, ia tersenyum penuh malu, namun tak sedikitpun ia berkata bahwa ia inginkan aku, namun aku akan tetap menunggu
Reza : apa yang tengah kau lihat..
Kikan : bintang itu, aku berharap ia jatuh menghiasi langit nantinya, dan disaat ia jatuh akulah orang pertama yang akan mengungkapkan semua pintaku.
Reza : maaf kikan, aku tidak sepenuhnya percaya dengan mitos itu, bagaimana mungkin pintamu akan terwujud oleh bintang yang hanya sekedar jatuh itu, kau hanya melakukan sebuah kebodohan bagiku.
Kikan : biarkanlah aku dengan kebodohan ini, karena aku sudah sangat lelah meminta pada tuhan, sudah terlalu lelah aku berusaha membuat seseorang itu terbuka lebar matanya. Dan kini aku merasa aku telah gila, sampai aku rasa bintangpun mungkin bisa membantuku.
Aku mengedipkan mata serentak dengan deruan nafas yang kian melemah dari rongga paru-paruku, malam ini tetap seperti ini adanya, lemah sekali, tak ada insting yang berbicara.
Reza : Kikan, aku teman barumu, tapi apa pantas aku ini kau jadikan tempat kau mencurahkan isi hati mu itu?, tanpa kau sadari aku sedang mencuri dengar apa yang kau katakan barusan.
Kikan : kau sedang tidak mencuri, itu sengaja kuberikan padamu secara percuma.
Reza : baiklah, apa yang bisa aku bantu untuk masalahmu itu!
Kikan : aku hanya ingin bertanya padamu, hanya satu tidak banyak.
Reza : apa itu? Katakanlah!!
Kikan : bagaimanakah cara membuat seorang lelaki mengetahui bahwa ada seorang perempuan yang tengah mengincar hatinya untuk dimiliki?
Reza : mungkin kau bisa tutup kedua matanya dengan jemari tangan kananmu, lalu sentuh hantinya lembut dengan tangan kirimu, buat ia terdiam, lantas setelah itu kau bisikan ketelinga kanannya bahwa kau menginginkan dia.
Kikan : baiklah.
Aku lantas berdiri dari duduk panjangku sedari tadi diatas kursi kayu panjang berwarna putih tulang, reza menatapku seketika, dan lekas menarik pandangannya itu lagi, aku memegang jemari tangannya halus mengajak ia berdiri juga. Ia pun kini berdiri tepat dihadapanku. Mulai ku gerakkan jemari dan lengan kananku keatas perlahan. Namun Reza menutup keduamatanya, ku gerakkan jemari dan lengan kiriku kemudian, namun Reza menyetuh hatinya rapat dengan jemari kirinya sendiri, aku tak tahu, dan ia mendekat.
Reza : kau tak perlu melakukan saran itu kepada pemiliknya sendiri, dan perlu kau ketahui sedari dulu kau sudah miliki hati ini. dan akulah yang seharusnya meminta pada bintang jatuh itu agar kau membuka matamu lebar bahwa aku sesungguhnya sudah menjadi MILIKMU SEPENUHNYA.
10.16.2010
HARRY MENATAP HARI (CURAHAN HATI UNTUK SAHABAT)
Tiga tahun yang lalu, dimana semua masih terasa biasa, aku masih sendiri didalam kesendirian yang tak pernah tamat, aku bukanlah seorang anak yang mudah dapat membaur saat itu dan rupanya hingga sampai saat ini masih saja begitu, banyak yang aku takuti, berbagai asumsi menjalar didalam kepala ku, seorang anak lelaki yang sungguh sangat tidak mengerti apapun, aku bukan seorang yang sombong, aku juga tidak angkuh dan merasa paling benar, aku bukan manusia yang berasaskan individualisme, tapi apa yang ada dalam diriku adalah sebuah keharusan yang memang telah terjadi, tentunya ini bukan mau ku.
Semua orang berhak mengenal ku, mereka harus tahu siapa aku. Tiga tahun yang lalu dan tiga tahun belakangan ini, aku bisa merasakan sebuah keramaian di dalam kesendirian. Semua berkat doa yang terus ku panjatkan, aku memang berbeda, berbeda dari yang telah ada dan berada di dunia ini. Aku juga bukan manusia yang sempurna, aku lemah dan tak mempunyai daya yang lebih. Namun aku pahami semua itu sebagai sebuah anugerah walau terkadang anugerah ini membuatku terasa tersiksa, “biarlah” itu kata hatiku. Keikhlasan ini sudah menjadi tameng yang sangat tebal, sehingga tak perlu lagi ku sesali apa yang telah terjadi. Aku memang patut bersedih atas semua yang aku miliki, namun aku lebih berhak untuk mensyukurinya dan membumbuinya dengaan senyuman dan tawa yang gemilang, bagaimanapun aku tercipta didunia ini bukanlah tanpa sebab dan fungsi, mungkin keberadaanku tidak dapat membuat siapapun senang, namun aku senang dengan keberadaanku di kehidupan ini.
Terkadang aku merasa kesepian, namun terkadang sepi itu membuatku merasa tenang apabila tiada yang bisa mengerti siapa aku, aku masih membutuhkan mereka sahabat-sahabatku, walau bagaimanapun keadaanku mereka tetap bisa mengerti dan memberikan pembauran yang indah, selalu saja membuatku tersenyum. Sahabat-sahabatku itu, mereka yang terbaik, ku temua mereka tiga tahun yang lalu, waktu itu aku masih terbilang kecil dan tak tau apa-apa, mereka hadir dengan cara yang sederhana, mereka sangat welcome. Aku bahagia, ku habiskan masa-masa hingga akhirnya kami menamatkan bangku SMA, keterpaksaan membuat kami terpisah dalam jarak, demi cita-cita yang masing-masing kami miliki. Kesedihan itu ada, namun dimanapun kami berada tentunya kami tetap sahabat.
Tahukan kalian semua, siapa yang membelaku disaat tiada yang mau membelaku? Dan siapa yang bisa menghentikan tangis ku disaat tiada yang mau melakukannya untukku, dan siapa yang mau memujiku disaat semua orang meremehkanku!. Jawabannya adalah mereka para sahabatku. Mereka tidak pernah merahasiakan apapun, tak ada yang mereka sembunyikan, tiada kesalahpahaman diantara kami, aku sedih membayangkan perpisahan, karena saat ini aku tak mampu merasakan hal yang sama terhadap orang lain, mereka para sahabatku, hanya merekalah yang bisa. Disini ditempat baru ini aku hanya sendiri, walau aku memiliki teman, namun mereka tak mungkin bisa melakukan yang biasa dilakukan sahabat-sahabatku, banyak rahasia yang mereka simpan di tempat baru ini, aku tidak memiliki kenyamanan disini dengan mereka, walau mereka baik namun tak sama, tak pernah ku dengar kata-kata yang mampu membuatku bersemangat dari mulut mereka, mereka hanya ingin dimengerti tanpa mau mengerti, mereka hanya mau merasakan senang tanpa melihat apa yang aku rasakan, aku tak tahan dengan ini semua, aku ingin sahabat-sahabatku ada disini menemaniku, aku rindu sekali, hanya dengan sahabat-sahabtku itulah aku dapat tertawa lepas, hanya dengan merekalah aku dapat merasakan kebahagiaan yang mutlak, aku rindu hal-hal itu, aku rindu semu hal yang kualami dulu.
Sahabat-sahabatku, disini aku mulai melakukan apa yang kalian mau, aku mulai bergaul dengan mereka semua yang baru disini, walau itu susah, karena naluriku berkata lain, aku tidak bisa secepat itu mendapatkan yang baru, aku masih butuh kalian. Disaatku tuliskan ini aku tengah menangis sahabatku, aku rindu kalian, aku sangat merindukan kalian, hanya kalian yang bisa mengobati sakit hati yang aku alami disini, hanya kalian yang mampu sahabat.
Dulu aku bisa mendapatkan kegembiraan yang sesungguhnya dari kalian, tapi kini tidak ada yang berbagi bahagia itu untuk ku, aku ingat disaat dulu, kalian temani kesepianku di sekolah, kalian mau menjadikan ku teman disaat tidak ada yang mau merelakan diri untuk menjadi temanku, aku bahagia sahabat, aku yang lemah ini kalian jadikan kuat saat itu, aku yang sangat merasa diremehkan oleh yang lain saat itu menjadi kian tegar oleh kalian, ku ingat disaat kita memadu nasib bersama disekolah, berjuang demi mendapatkan angkan 100, dan berjuang untuk menjadi yang pertama di sekolah. Dulu hari-hariku tidak sesepi ini, namun sekarang kesepian mulai menyengat lagi. Bagaimana aku lakukan hal yang aku inginkan dengan kesepian yang mematikan ini.
Aku berjuang untuk masa depan sahabat. Doakan aku selalu, aku tak ingin berleha-leha, karena dunia rupanya kian kejam dan menyiksa, sahabat!, dimanapun kalian berada, dengarlah jeritan hatiku ini, AKU RINDU KALIAN, aku rindu saat bersama. Tolonglah aku, keluarkan aku dari belenggu ini, aku berhak bahagia juga disini.. SAHABAT AKU RINDU KALIAN....
10.10.2010
TENTANG IBU TENTANG KELUARGA YANG KU RINDU
dia adalah sebuah keindahan tiada tara, tiada cela dan tanpa dosa. Dia bukan seorang malaikat, namun ia lebih sempurna dari itu, dia juga bukan bidadari yang turun dari langit, namun dia adalah pahlawan yang sebenarnya dalam hidupku. Bagiku ibu adalah sebuah anugrah terindah, dia mengandung tubuh hinaku ini selama sembilan bulan, bersusah payah, penuh peluh air mata dan kesakitan. Ibulah yang melahirkanku, dia membesarkanku tanpa sedikitpun kegetiraan yang tampak diwajahnya, ia pahlawan tanpa tanda jasa, dia yang membuatku hadir dalam kehidupan ini, dia yang menjadikan aku berani menantang keganasan dunia, dia yang mengajarkanku tentang apa itu kehidupan.
Ibu. Walaupun ia tak sempurna, walau ia bukan seorang yang berilmu tinggi, namun bagiku ialah guru yang paling berjasa, ia dalam tangisnya berdoa dan selalu berdoa untuk anaknya ini, walaupun tuhan tidak menciptakan kehidupan yang indah baginya walaupun tuhan tak memberikan keberuntungan layaknya aku sekarang, tetap saja ibu tidak pernah mempermasalahkannya, ia menyemangatiku, ia memberikan aku semua kasih dan segala sayang yang tak pernah ada hentinya, cintanya begitu luhur.
Aku jauh dari ibu, aku merindukan ibu, aku tak sanggup berpisah jauh. Aku menangis untuk ibu, akan ku kenang ibu selalu disetiap denyut nadiku, kan kusebutkan nama ibu selalu disetiap hembusan nafasku, aku menyayangimu ibu, kau lah satu-satunya manusia yang berharga didunia ini, tak peduli siapa kau dimata orang. Bagiku kaulah yang terbaik, bahkan kaulah manusia yang paling sempurna didunia ini. DAN KAU SEGALANYA
Kasihmu sempurna ibu
Laksana binar mentarai menantang hari
Kehangatan kau beri tiada henti
Dengan peluh walau berair mata
Anak mu kau kasih dan kau cinta
Hingga kini ia dewasa
Hingga nanti ia menjadi apa yang kau inginkan
Ibu, kau permata, kau berlian
Kau cahaya dalam gelap dan terang
Kau indah layaknya pelangi
Ibu aku merindu
Keluarga ku yang kucintai, sudah lama berpisah jarak, aku disini jauh dari hangat mu, aku disini menyendiri memadu cita, rupanya aku bukanlah sebuah karang, aku lalui ini dengan kegetiran, aku belum terbiasa seperti ini, aku cinta kau keluarga, aku cinta kau ibu, ayah, saudara-saudaraku..... aku ingin bertemu kembali walau hanya sejenak, sekedar melepas rasa sedih dan keluh kesahku, kan ku dekap erat kalian. Kau keluarga. Kaulah anugrarh sebenar dari sang pencipta. “AKU RINDU KELUARGA KU DISANA TUHAN!!”
8.22.2010
CERPEN: "TAKDIR TIDAK HARUS MEMBELENGGU CINTA"
Sudah tujuh hari semenjak saat itu, aku cukup membuat hati bahkan diriku ini berbuat salah, aku menyalahi perasaan yang begitu tulus, namun aku tetap tidak bisa melanjutkan hubungan ini, sudah cukup jelas sekali alasan mengapa aku melakukan ini semua. Dan sepertinya hingga matipun aku tidak akan pernah bisa lagi menjumpai hal yang sama dengan yang bayu miliki terhadap lelaki lainnya, because all owned by him is something beautiful and precious as a jewel hidden in gold to me, walau begitu indah apapun yang terdapat pada diri bayu tetap saja sama, “kau tidak mungkin mencintai saudara kembarmu sendiri” seperti apa yang dikatakan ayah.
Bayu sangat terpukul mendengar keputusan dan kenyataan yang ku katakan pada malam itu, dia mengeluarkan air mata sedih yang begitu dalam dari kedua belah matanya, saat dia menggengam kedua tanganku aku hanya bisa memejamkan mata, menepis semua kenangan indah yang bisa membuatku menyalahi takdir lagi, aku mengatakan semua hal yang aku tahu, dan semua yang menyangkut hal mengapa aku dan bayu tidak patut lagi mencintai. “bayu, kita tidak mungkin bisa bersama, jujur aku juga merasakan ini sungguh sangat mustahil, dan bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi, aku rasa ini bukan kebetulan, aku merasa ini adalah permainan, tapi!! Semakin lama, aku semakin berfikir tentang apa yang ayah ku dan ayah yang juga sebenarnya ayah mu itu katakan kepada ku, kau dan aku adalah saudara kembar, ayah dan ibu kita bercerai dan sudah semenjak kita bayi bay, dan keberadaan kita satu sama lainnya tidak pernah diketahui, dan bisa dikatakan kita semua lost contact, aku sedih mendengar ini semua, aku sedih, mengapa orangtua kita tidak pernah mengatakan hal ini semenjak dulu, sebelum semua ini sempat terjadi, jujur aku MENCINTAIMU SANGAT, dan aku tak mungkin bisa melepaskanmu sebenarnya, tapi bagaimanapun kita tidak boleh saling mencinta, darah yang mengalir dalam tubuh kita ini sama bay, sangat sama bahkan percis tanpa beda sedikitpun, aku harap kau mengerti bay, kita ini kakak adik” itu yang ku katakan kepada bayu, bayu hanya bisa menangis, dia sebenarnya lelaki yang tegar, bahkan lebih tegar dari sebuah batu karang, ia hampir tidak pernah menangis, namu malam itu, ia sungguh berbeda, tangisannya begitu mengharukan, agaknya ia sangat mencintai aku, dan karena itulah dia bisa menangis sejadi-jadinya saat itu. Bayu tidak dapat berkata lebih, ia mengucapkan kata-kata yang sungguh dalam tangisan, akupun tak kuasa menanahan tangis saat ia mengatakan “BAGAIMANAPUN, DAN APAPUN ALASANNYA AKU AKAN TETAP MENCINTAIMU ARIN!! BUKAN SEBAGAI SAUDARA KANDUNG MELAINKAN SEBAGAI KAU DAN AKU”.
***
Malam itu telah berlalu, namun lukanya masih membekas di dalam ingatanku. Aku hanya bisa menangis sepanjang hari didalam kamar tidurku yang kelabu karena telah terselubung oleh atmosfer kesedihan, dan menutupi wajahku yang kalut ini dengan selimut panjang berwarna biru muda, aku tidak lagi menghiraukan apa yang ada di seisi rumahku, bahkan ibu tiriku yang baik itu tidak kuhiraukan sedikitpun, beliau sudah mencoba menenangkan perasaan ini sekian kali, namun tetap saja kesedihanku memenangkan lahan di hati dan fikiran ini. Ayah hanya bisa tenang dan tenang, ia seperti tanpa salah, ia sangat benci dengan ibu kandungku yang ternyata masih hidup itu, bahkan ia tidak mengagap bayu sebagai anak kandungnya, dan ternyata ibu kandungku juga bersikap seperti itu, aku dan bayu menjadi serba salah menanggapinya, mereka berdua seperti air dan minyak yang susah untuk di satukan unsurnya. Walaupun mereka tidak lagi sendiri namun mereka masih tetap bisa dan harus berbaikan bukan, tapi sebanyak apapun aku menasehati ayah tetap saja hasilnya NIHIL. Bahkan ibu tirikupun sampai-sampai menangis saat menasehati ayah, ia kasihan dengan kondisiku yang semakin lama semakin drop karena sedih, beliau sangat menyayangiku, ia telah merawat diriku ini semenjak bayi, jadi aku dan dia bukan lagi orang lain, kami adalah ibu dan anak walau dalam perbedaan darah.
Sudah setengah hari aku mengurung diri di kamar, sayup-sayup terdengar suara handphoneku berbunyi menandakan sebuah sms masuk. Dengan keadaan lunglai ku hampiri handpone tersebut, ku raih dan ku gulirkan track ballnya kearah pesan. Ku buka dan ku baca…
Kau kini seperti pelangi.
Dulu keindahan mu ku nikmati dengan penuh rasa di hati
Namun beberapa saat yang lalu kau sirna dari pandanganku
Kau terbawa lembayung dan angin panas menghancurkan
Menghancurkan keindahan hingga kini kau hilang
Aku tak lagi bisa memiliki keindahanmu
Telah habis dalam kesedihan
Tertelan oleh kepalsuan
Aku bukan manusia yang kokoh
Kini aku telah ambruk.
Hatiku remuk dan hancur menjadi debu
Perisai cinta yang dulu membentengi telah sirna
Aku tak dapat lagi membendung kesedihan
Pelupukmataku kelu dan sangat perih
Air mataku telah hancur bersama kehancuran
Aku hanya ingin memilikimu,
Itu cukup bagiku
Tapi mengapa cinta ini salah
Cinta yang salah ini akan tetap mencintai
Dengan tulus dan dengan semangat yang luarbiasa
Aku harap TUHAN MENGERTI.
(bayu)
Bayu, dengan puisinya lagi, puisi demi puisi yang ia kirimkan sangat menusuk hatiku, aku merasakan hal yang sama dengannya saat ini, aku pun tidak ingin kehilangan, karena kehilangan itu sangat menyakitkan sekali. tapi bagaimanapun takdir lebih berkuasa atas semuanya. Akupun tersungkur dalam kesedihan lagi.
Hari ini ini senin, seminggu sebelum keberangkatanku ke bandung untuk kuliah, sebagian barang bawaan telah disediakan bahkan sudah di packing dengan sangat rapi, hanya baju dan beberapa barang lainnya saja yang belum, sebenarnya tawaran kuliah ke bandung ini kutolak sebelumnya, saat itu aku masih berhubungan dengan bayu, karena cintaku yang sangat dalam membuatku menolak untuk kuliah diluar batam, namun setelah semua ini terjadi aku merasa pantas untuk menerima tawaran itu walau bisa di bilang aku menjilat kembali ludahku sendiri, tapi biarlah, ini semua demi ketenangan dan kebaikkan, melupakan bayu itu prioritas utama.
Aku sudah tidak lagi sering menangis dan mengurung diri di dalam kamar, kali ini aku keluar untuk bercengkerama dengan ibu dan adik tiriku di ruang keluarga walau aku belum bisa 100% jenaka mereka terlihat mengerti sehingga tidak sedikitpun mempermasalahkan hal itu, mereka selalu tersenyum memandangiku.
“kak, entar kalau udah di bandung, beliin adek kaset PS ya,,”
“hush, randy, kamu ini, kan udah ibu larang kamu maenin tu PS, ibu gak mau nilai kamu entar anjlok lagi”
“yah ibu, kan randy maennya entar pas liburan sekolah, gak kenapa-kenapa dong buk…”
“sekali ngak tetap ngak.. ok”
“ibuu niihhh…..”
Aku hanya tersenyum dalam hati melihat gelagat mereka yang selalu bertengkar walau itu sebenarnya demi kebaikan randy sendiri. Aku tidak bisa bersuara selain hanya tersenyum dan memandangi tanda setuju terhadap argument ibuku itu.
“udah kamu mandi dulu sana udah sore” suruh ibu kepada randy, randy pun pergi beranjak dari sofa yang ia duduki menuju kamar miliknya.
“rinn..”
“ya..”
“kamu masih sedih?”
“sangat sedih sebenarnya, tapi gak ada kan yang bisa arin lakuin ma?”
“ibu kasihan lihat kamu begini terus, andai ibu bisa bantu kamu…”
“yah gak usah lah buk, arin bisa kok ngatasin ini semua, walau butuh waktu yang lama, lagipun ini memang jalan yang terbaik sebelum semuanya terlanjur”
“ibu mengusap rambutku saat aku tanpa sadar rebah di pelukan ibu, aku meringis sedikit, ibu masih tenang memberikan kehangatan yang menggembirakan dari hatinya. Ibu memang yang terbaik.
***
Sebuah pesan di akun facebook, bayu mengiriminya beberapa menit yang lalu, aku masih online sehingga pesan itu bisa ku baca segera setelah ada pemberitahuan, bayu benar aku sedih mendengar berita ini, seperti inikah hidup, ini semua seperti drama yang dibuat-buat, apa ada kisah hidup yang seperti ini, apakah kami yang pertama, ini sunggu tragis dan melankolis, aku menangis lagi, seminggu lagi, berarti saat aku pergi kesempatanku untuk mencintai bayu juga akan ikut pergi, sirna dan binasa.
***
“arin, kok mendadak banget sih mau kuliah di bandungnya, janjinya mau kuliah di poltek bareng aku disini…”
“ya, sorry deh, memang sih mendadak banget, lagipun ayahku maksa, aku juga gak enak nolaknya, habis takutnya entar kenapa-kenapa lagi gara-gara gak ngikutin apa kata orangtua, takut di cap durhaka nih”
“ahh masak sih… gak mungkin Cuma gara-gara itu, pasti ada alasan lain”
“eng..enggak ada lah, mang itu kok alasannya”
“udah deh rin, kau tuh gak bisa nutupin dari aku, aku ini sahabatmu gak mungkin bisa kau bohongin”
“ehmmm gak ada vin, suer”
“ya ampun rin.., aku ini sahabatmu loh… segitunya sih gak mau berbagi, masalahmukan masalh aku juga”
“ehmm… gimana ya ceritanya.. beberapa minggu yang lalu aku dan bayu putus”
“putus!!! Kok?”
“ya. Karena sebenarnya aku sama bayu saudara kandung bahkan KEMBAR”
“tunggu.. tunggu… jangan bilang aku beneran gak salah denger, gimana bisa, kau dan bayu, SAUDARA KEMBAR, mustahil”
“gak mustahil vin, ayah ku dan ibunya bayu dulu pernah menikah dan kami berdua anak buah cinta mereka, dan semua ini juga ayahku yang bilang”
“kau percaya rin?”
“ya.. aku percaya lah”
“aku rasa gak mungkin aja deh, kamu udah mastiin memangnya, wajah kalian aja gak sama”
“kami kembar beda telur bahkan beda kelamin”
“ya, walau begitu pastinya harus ada sedikit kemiripan, sifat, kelakuan atau apalah itu, tapi sejauh ini aku lihat gak ada, apa kamu udah nyamain, apa kamu udah cek golongan darah kalian, sama atau beda, biasanya anak kembar pasti darahnya sama”
“apa iya begitu vin?”
“setau aku begitu, udah deh rin, aku minta kau jangan putus asa begini, aku yakin kau sama bayu masih punya harapan untuk kembali seperti semula, aku yakin itu”
“gak mungkin bisa lagi vin, aku bakalan ke bandung 2 hari lagi, dan 2 hari lagi juga bayu akan ditunangkan dengan perempuan pilihan ibunya”
“ya ampun drama banget sih, gak mungkin, udah..udah.. jangan tambah sedih atau tambah kalut, kau pastiin dulu semua kebenarannya, jangan asal percaya, ya ampun ini mustahil, gak mungkin sekebetulan ini ceritanya, ini hiduploh bukan sinetron!!!”
“tapi…”
“tapi apa?, gak ada tapi-tapian, kau ini SEMANGAT kenapa…”
Aku menemui vina pagi itu di rumahnya, hanya berkunjung memberikan kabar yang jelas bahwa aku bakalan pergi kebandung dua hari lagi, dan dengan paksaan akhirnya semua hal yang menjadi alasannya ku bongkar kepada vina. Sebenarnya apa yang dikatakan vina ada benarnya, namun aku masih yakin dengan yang ayah katakana, dia gak mungkin bohong, biarkanlah semua berjalan apa adanya, aku tidak ingin ambil pusing walau aku sedih. Ku serahkan kepada tuhan dan takdirnya, bila memang rezeki bayu pasti gak akan kemana.
***
Aku bagaikan pelanduk berkaki patah
Otakku mati dan pikiranku terhenti
Aku juga seperti robot yang dikendali
Aku menahan emosi cinta yang luar biasa dan mengikuti alur yang sesat
Cintaku hanya untuk satu, namun terpaksa dan dipaksa cinta untuk yang lain’
Tidak akan bisa!! Walau aku kaku bagaimanapun darahku masih berjalan
Derunya bahkan lebih hebat, aku masih berhak
Aku memiliki jeruji besi di diriku,
Akan ku gunakan ia sebagai perisai
Akan kutulikan telingaku
Kubuat buta mata ini
Dan ku lumpuhkan otak pula
Agar tidak ada yang bisa memaksa AKU
Cinta ini BENAR
Aku mencintai yang BENAR
Dan ini bukan KESALAHAN
Bukan?
Sebuah puisi lagi, dan aku balas dengan sebuah sampiran singkat.
Ini bukan salah kau bahkan aku
Tidak juga kita berdua bersalah
Kita termakan oleh kesalahan takdir
Kita terlahir membelakangi takdir
Kita pantas dan berhak tinggi
Mendapatkan semua keindahan ini kita pantas
Hanya saja takdir itu akhirnya mengoreksi diri hingga akhirnya kita begini
Aku sama dengan mu, aku CINTA
Aku tidak menyalahi CINTA
Aku menyalahi TAKDIR
Aku tak takut dosa
Karena semua ini tidak harus jadi DRAMA
Aku untuk mu
Dan kau untuk ku
BEGITU SAJA
SEDERHANA BUKAN
TUHAN!! MENGERTILAH KAMI
Bayu menelepon.
“rin, maafin aku”
“gak papa ko bay”
“ini sudah berakhirkan, walau pahit”
“ya bay, ikhlaskan saja, bila rezeki tidak akan kemana”
“ya, besok kau berangkat, jangan lupakan aku, walau kau ingin melupakan kenangan kita”
“ya pastinya kau tidak akan ku buang dari ingatan, percayalah!!”
“terimakasih rin”
“ya. Apa yang tidak untuk saudara sendiri”
***
Aku menangis di dalam perjalanan menuju bandara, ada yah dan ibu didepan sementara adik tiriku menami di belakang bersamaku, ia melihat kearahaku sembari mengusap lembut lenganku, ia mengetahui semua yang membebeani kakaknya ini, ayah tidak melarang aku untuk menangis, sementara ibu hanya diam, sesekali dipandanginya ayah, seperti mengharapkan sesuatu.
Perjalanan hanya sekitar 35 menit, dan akhirnya sampai kebandara HANG NADIM, aku turun membawa semua barang bawaan dari dalam mobil, dengan mata sembab dan hati terluka parah, aku digamdemg randy, ayah di belakang dan ibu bersamanya, ia menepuk-nepuk pundak ayah ia masih terlihat berharap, walau aku tak tahu apa yang ia harapkan. Sapu tanganku sudah lembap oleh air mata, sedikit lagi akan menjadi basah, aku deg-degan bahkan aku kelu dan merasakan kebas di hati ini.. hanya beberapa saat lagi semuanya sirna, aku pergi dan bayu juga. Hilang semua harapan sesaat lagi.
Aku masuk ke ruang check-in, mereka berdua ikut menemani hingga diruangan ini, hanya 15menit menunggu giliran check-in dan akhirnya selesai, lagi-lagi aku menangis, aku taak malu menangis disini, saat ini bahkan tidak ada perasaan malu sedikitpun, aku sedang sedih dan lumrah apabila aku menangis. Ku geret koper kecilku, menuju loket boarding, ibu masih melihat ayah dengan penuh harap, semakin jadi pandangannya itu ketikan melihat tangisku makin menguat, adik ikut menangis rupanya, ia mengejarku..
“kakak….!!!” Randy berteriak kencang, ku dekpa ia kuat, kukeluarkan semua tangisanku.
“kakak sabar ya!!, jangan nangis lagi, randy yakin kakan bisa senang, mungkin sesaat lagi”
“makasih ran, kakak pergi yah….”
Aku melangkah menuju escalator, ibu terlihat menguncang-guncang tubuh ayah yang hanya terdiam, aku tak tahu apa yang mereka debatkan, tapi akhirnya ibu berlari, ayah mencoba menahan ibu, tapi ia berlari medekatiku….
“ariiinn… tungguu…”
Darahku berdesir, aku sudah sampai dipuncak menyudahi escalator, ibu berlari hebat… ia terengah sedikit dan menyibakkan air mata dari pelupuk matanya dengan satu sapuan tangan, ia sampai akhirnya dipuncak lantas memelukku,….
“kau bisa mencintai bayu” aku tersentak
“kau dan bayu sebenarnya bukan saudara kembarmu, ia anak angkat dari ibu kandungmu” aku terpana, tangisku tersekat
“pergilah sekarang, temui cintamu, jangan terlambat ariinn…”
Tangisku berlinang dan kini berhenti, ibuku ciumi kening dan tangannya, aku berlari menuruni anak tangga dan bukan escalator.. ku terobos antrian boarding… ayah menepis kesal.. aku berlari keluar, aku kalang kabut, ada taxi digerbang dan langsung kunaiki
“sukajadi pak”
Taxi melaju deras sekali,,,,,,
“cepat,,, yang cepat pak”
“ya neng,,, saya buru”
Tepat di persimpangan lampu merah… aduh aku tidak boleh telat. 25 detik lampu merah padam, lampu hijau mengganti dan taxi kembali berlari… berjalan lurus, memotong kendaraan depan, menyalip dan mengebut kencang, sopir taxi ini memang handal.. semakin laju, laju dan laju, tinggal sedikit lagi…. pas di depan jalan simpang tiga, tapi siall…….
Brakk
Taxi ini menabrak, kepalaku terbentur dan kurasa darah mengalir, aku pusing, supir taxi lebih parah ia terluka dan pingsan hebat, aku keluar, darah dari kepalaku semakin hebat, aku terbentur kaca mobil depan, aku terjungakl, kepalaku sepertinya bocor.. tapi aku masih dalam semangat, aku keluar dari taxi, ku minta bantuan orang yang berada disitu untuk mengurus sopir taxi itu, ku lampirkan sekian ratus ribu rupiah bersamanya sebagai biaya, lantas aku berlari, berlari dan berlari, sudah tidak jauh lagi, hanya tinggal berbelok sedikit dari jalan raya dan menyusuri gang perumahan…
Darahku masih mengalir, pendarahannya hebat, aku pusing sebanrnya, langkaku terpingkal, sesekali terjatuh... “bayu tunggu aku…”
Aku mendenguskan nafas,,, “bayu tunggu”
Aku hampir hilang kesadara.. “tungguu aku”
Aku tersungkur “bayu…”
Aku bangun dari jatuhku “tunggu”
Akhirnya sampai, ku dobrak pintu depan rumahnya yang megah, pesta pertunangan di dalam rumah, aku melihat bayu sedang menyematkan cincin di jari seorang perempuan…
“bayu….!!!”
Aku berterika, semua orang terkejut, lantas bayupun melihat juga, ia tercengan dan akhirnya sadar bahwa ini aku, ia mencabut cincin yang sedang ia sematkana, di cabut dan di buangnya cincin itu.. jauh dan terpelanting…
“arin” di berlari dan memelukku
“kau bukan saudara kandungku… ka ka kau… dan ..dan. a a aku bi bisa mencin ci tai lagi” aku terbata aku mengais dan bayu pun sama
“aku mencintaimu bayu, ini akhir kita yang manis” aku hilang kesadaran TAPI AKU BAHAGIA.
Inilah takdir yang sebenar
Ku ucapkan beribu untai terimakasih
Ku iringinya denga irama duniawai yang megah
Cintai semoga berkekalan
Aku cinta dengan sungguh dan in abadi tanpa henti