11.08.2008

Abu Nawas Merusak Rumah Tuan Kadi

Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Ada dua orang tamu dating ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan mesir.
Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka.
“sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian dating kepadaku pada malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta batu.”
Murid-murid Abu Nawas meras heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan berada di pihak yang benar.
Pada malam harinya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan menbawa peralatan yang diminta Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,”hai kalian semua ! pergilah malam hari ini untuk merusak rumah tuan kadi yang baru jadi.”
“hah ? merusak rumah tuan Kadi ?” gumam semua muridnya keheranan.
“Apa ? kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini !”
Kata Abu Nawas menghapus keraguan murid-muridnya. Barang sipa yang mencegahmu jangan pedulikan, terus pecahkan saja rumah tuan Kadi yang baru. Siapa yang bertanya, katakana saja aku yang menyuruh merusak. Barang siapa yang hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan lemparilah mereka dengan batu.”
Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak kearah rumah tuan Kadi.
Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakuan meraka. Lebih-lebih ketika tanpa basa-basi lagi mereka lansung merusak rumah tuan Kadi. Orang-orang kampong itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karenajumlah murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani mencegah.
Melihat banyak orang merusak rumahnya, tuan Kadi segera keluar dan bertanya,”sipa yang menyuruh kalian merusak rumahku ?”
Muri-murid itu menjawab,”guru kami tuan Abu Nawas yang menyuruh kami !”
Habis menjawab begitu mereka biukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.
Tuan Kadi hanya bias marah-marah karena tidak ada orang yang berabi membelanya,”dasar Abu Nawas provokator, orang gila ! besok pagi aku akan melaporkannya pada baginda.”
Benar, esok harinay tuan Kadi mengadukan kejadian semalm sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap baginda.
Setelah Abu Nawas menghadap baginda, ia ditanya.”hai Abu Nawas apa sebabnya kau merusak rumah Kadi itu.”
Abu Nawas menjawab,”wahai tuanku, sebabnya ialah pada suatu malam hamba bermimpi, bawasanya tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya. Sebab itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi. Ya, karena mimpi itu hamba merusak rumah tuan Kadi.”
Baginda berkata,” hai Abu Nawas, bolehkah hany karena mimpi sebuah perintah dilakukan ? hokum dari negeri mana yang kau pakai itu ?”
Dengan tenang Abu Nawas mejawab,”hamba juga memakai hokum tuan Kadi yang baru ini tuanku.”
Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah tuan Kadi mejadi pucat. Ia terdiam seribu bahasa.
“hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu ?” Tanya baginda.
Tapi tuan Kadi tidak menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetar karena takut.
“Abu Nawas! Jangan membuat ku pusing ! jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini !”perintah baginda.
“baiklah……”Abu Nawas tetap tenang.”baginda…..beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda Mesir dating kenegeri Baghdad ihi untuk berdagang sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada sutau malam ia bermimpi kawi dengan anak tuan Kadi dengan mahar sekian banyak. Ini hanya mimpi baginda. Tetapi tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsunh mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di sinilah terlihat arogansi tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik pemuda Mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhirnya ditolaong oleh wanita tua penjual kahwa.”
Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu kehadapan baginda.
Berkata baginda raja,”hai anak Mesir ceritakankah hal-ihwal dirimu sejak engkau dating kenegeri ini.”
Ternyata cerita pemuda itu sama denga cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu juga membawa saksi yaitu pak tua pemilik tempat kost dia menginap.
Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya dirampas dan diberikan kepada si pemuda itu.
Setelah perkar selesai, kembalilah si pemuda itu dengan Abu Nawas pulang kerumahnya. Si pemuda itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,”janganlah engkau memberiku barang sesuatupun kepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua.”Pemuda mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bijak dan lugas adalah kunci sebuah kritik dapat dinalar dengan otak dan dapat dicerna oleh mata !